Headlines News :
Powered by Blogger.

Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Kisah Putri Tangguk

Kisah Putri Tangguk adalah sebuah cerita yang berasal dari daerah Jambi, Indonesia. Cerita ini menceritakan kehidupan seorang perempuan bernama Putri Tangguk, yang hidup bersama suaminya dan ketujuh anaknya di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci.

Mereka adalah petani yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Suatu hari, Putri Tangguk terpeleset di jalan licin dan marah, sehingga menaburkan padi di jalanan untuk menghindari licinnya.

Namun, tindakan ini berakibat buruk karena persediaan padi keluarga habis dan mereka harus menghadapi kesusahan. Putri Tangguk menyesali tindakannya dan bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua yang memperingatkannya tentang konsekuensi perbuatannya.



DONGENG SINGA DAN TIKUS


Seekor singa sedang tidur dengan lelap di dalam hutan, dengan kepalanya yang besar bersandar pada telapak kakinya. Seekor tikus kecil secara tidak sengaja berjalan di dekatnya, dan setelah tikus itu sadar bahwa dia berjalan di depan seekor singa yang tertidur, sang Tikus menjadi ketakutan dan berlari dengan cepat, tetapi karena ketakutan, sang Tikus malah berlari di atas hidung sang Singa yang sedang tidur. Sang Singa menjadi terbangun dan dengan sangat marah menangkap makhluk kecil itu dengan cakarnya yang sangat besar.
"Ampuni saya!" kata sang Tikus. "Tolong lepaskan saya dan suatu saat nanti saya akan membalas kebaikanmu."
Singa menjadi tertawa dan merasa lucu saat berpikir bahwa seekor tikus kecil akan dapat membantunya. Tetapi dengan baik hati, akhirnya singa tersebut melepaskan tikus kecil itu.
Suatu hari, ketika sang Singa mengintai mangsanya di dalam hutan, sang Singa tertangkap oleh jala yang ditebarkan oleh pemburu. Karena tidak dapat membebaskan dirinya sendiri, sang Singa mengaum dengan marah ke seluruh hutan. Saat itu sang Tikus yang pernah dilepaskannya mendengarkan auman itu dan dengan cepat menuju ke arah dimana sang Singa terjerat pada jala. Sang Tikus kemudian menemukan sang Singa yang meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari jala yang menjeratnya. Sang Tikus kemudian berlari ke tali besar yang menahan jala tersebut, dia lalu menggigit tali tersebut sampai putus hingga akhirnya sang Singa dapat dibebaskan.
"Kamu tertawa ketika saya berkata akan membalas perbuatan baikmu," kata sang Tikus. "Sekarang kamu lihat bahwa walaupun kecil, seekor tikus dapat juga menolong seekor singa."
Kebaikan hati selalu mendapat balasan yang baik.

Menyusun Naskah Pidato

Pidato merupakan kegiatan berbicara. Berpidato bisa dilakukan berdasarkan teks/naskah pidato (yang sudah disiapkan sebelumnya), berdasarkan catatan tentang garis besar isi pidato, ada pula yang serta merta, tanpa teks. Bagi pemula, dalam berpidato sebaiknya menggunakan teks/naskah pidato agar lancar.

Sekarang mari berlatih menyusun naskah pidato. Naskah pidato disusun berdasarkan langkah-langkah berikut.
  1. Menentukan tema atau pokok pembicaraan. Tema disesuaikan dengan peristiwa yang melatarbelakangi pidato. Misalnya, untuk acara perpisahan, kamu bisa menyampaikan tema “Berterima kasih kepada Bapak-bapak/Ibu-ibu Guru”.
  2. Mendaftar pokok-pokok isi yang akan disampaikan dalam pidato.
  3. Menentukan tujuan pidato. Tujuan pidato bermacam-macam, misalnya untuk mengemukakan atau menyampaikan sesuatu, menghibur, menjelaskan sesuatu atau mempengaruhi pendengar.
  4. Menyusun kerangka pidato.Kerangka pidato terdiri atas pendahuluan, isi, dan penutup.
  • Pendahuluan, berisi: salam pembuka, ucapan syukur kepada Tuhan, ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang terkait, dan tujuan pidato.
  • Isi. Isi pidato berisi uraian materi pidato. Isi pidato harus sesuai dengan tema.
  • Penutup, berisi kesimpulan, saran, kritik, harapan-harapan, ucapan terima kasih, permohonan maaf, dan salam penutup.
5.      Mengembangkan kerangka pidato menjadi naskah pidato.

Contoh Naskah Pidato :
Sambutan Murid kepada Guru pada Acara Perpisahan


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang kami muliakan, izinkanlah saya berdiri sejenak di hadapan Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang kami muliakan untuk mewakili rekan-rekan yang telah menamatkan pelajaran di Sekolah Dasar Negeri Sukamaju yang kami cintai ini.
Pertama-tama, marilah kita menghaturkan puji syukur ke hadirat Allah S.W.T. karena kita semua mendapat berkah dan karunia-Nya sehingga dapat hadir dan berkumpul di aula sekolah ini tanpa halangan yang berarti.
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang sangat kami cintai lagi kami muliakan, terlebih dahulu, perkenanlah saya atas nama rekan-rekan sekelas menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang telah berhasil mendidik dan mengajar kami dengan maksimal, sehingga kami menamatkan pelajaran di sekolah ini.
Selama 6 tahun kami menuntut ilmu di sekolah yang tercinta ini, maka selama itu pulalah kami telah menjalin ikatan batin yang sangat kuat lagi dalam dengan Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru di sini. Bagi kami, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru sebenarnya adalah orang tua kandung kami sendiri yang sangat besar jasanya bagi kami semua, sehingga apa-apa yang telah Bapak dan Ibu ajarkan kepada kami, akan senantiasa kami ingat dan catat dalam hati sanubari kami semua. Segala pesan, petunjuk, petuah dan bimbingan yang selama ini kami dapatkan, insya Allah akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya.
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang sangat kami cintai lagi kami muliakan, tidak lama lagi, kami murid-murid kelas enam akan meninggalkan sekolah ini, yang berarti pula meninggalkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang kami cintai. Sesungguhnya perpisahan ini sangat berat kami rasakan, namun mengingat masa depan kami yang harus kami sambut dengan meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, maka perpisahan ini kami terima dengan hati yang ikhlas dan penuh sikap tawakal kepada Allah S.W.T.
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru, di hari-hari mendatang kami tentu tidak dapat lagi berdekatan seperti selama enam tahun belakangan ini. Namun demikian, jauhnya jarak bukan berarti juga jauhnya ikatan batin kami dengan Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru. Di hati kami, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru masih sangat dekat seperti layaknya kami semua masih di sekolah ini.
Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang sangat kami cintai lagi kami muliakan, jasa dan pengabdian Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru selama ini dalam mendidik, mengajar, membimbing dan mengasuh kami selama bersekolah di SD Negeri Sukamaju ini, sungguh sangat besar. Kami tidak dapat membalas kebaikan dan jasa Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru dengan apa pun, selain dengan doa dan permohonan kami, agar kiranya Allah S.W.T. berkenan memberkahi serta meridlai Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru dengan diberi-Nya keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan serta taufik dan hidayah-Nya. Amin Ya Allah Ya Rabbal’Alamiin.
Demikian sambutan yang dapat kami sampaikan, tak lupa kami mohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan kami selama ini. Kami mohon doa restu pada Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru demi kelancaran dan kesuksesan kami di jenjang pendidikan selanjutnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Macam-macam Paragraf

Paragraf adalah kalimat kalimat yang berkelanjutan yang membentuk sebuah pembahasan khusus. dan pada umumnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terdapat 5 jenis paragraf.
1. Narasi: paragraf yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa. Ciri-ciri : ada kejadian, ada palaku, dan ada waktu kejadian. Contoh Paragraf Narasi : Anak itu berjalan cepat menuju pintu rumahnya karena merasa khawatir seseorang akan memergoki kedatangannya. Sedikit susah payah dia membuka pintu itu. Ia begitu terkejut ketika daun pintu terbuka seorang lelaki berwajah buruk tiba-tiba berdiri di hadapannya. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengayunkan tinjunya ke arah perut lelaki misterius itu. Ia semakin terkejut karena ternyata lelaki itu tetap bergeming. Raut muka lelaki itu semakin menyeramkan, bagaikan seekor singa yang siap menerkam. Anak itu pun memukulinya berulang kali hingga ia terjatuh tak sadarkan diri.
2. Deskripsi: paragraf yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seakan bisa melihat, mendengar, atau merasa objek yang digambarkan itu. Objek yang dideskripsikan dapat berupa orang, benda, atau tempat. Ciri-ciri : ada objek yang digambarkan Contoh Paragraf Deskripsi: Perempuan itu tinggi semampai. Jilbab warna ungu yang menutupi kepalanya membuat kulit wajanya yang kuning nampak semakin cantik. Matanya bulat bersinar disertai bulu mata yang tebal. Hidungnya mancung sekali mirip dengan para wanita palestina.
3. Eksposisi: paragraf yang menginformasikan suatu teori, teknik, kiat, atau petunjuk sehingga orang yang membacanya akan bertambah wawasannya. Ciri-ciri: ada informasi Contoh Paragraf Eksposisi : Bahtsul masail sendiri merupakan forum diskusi keagamaan yang sudah mendarah daging di pesantren. Di dalamnya, dibahas persoalan-persoalan masyarakat yang membutuhkan tinjauan keagamaan secara ilmiah, rinci, dan terukur. Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar topik yang muncul didasarkan atas laporan, aduan, atau keluhan masyarakat tentang persoalan agama, sosial, budaya, hingga ekonomi. Bisa dikatakan bahwa bahtsul masail sesungguhnya merupakan cara khas pesantren untuk menyuarakan aspirasi masyarakat melalui perspektif agama.
  4. Argumentasi: paragraf yang mengemukakan suatu pendapat beserta alasannya. Ciri-ciri : ada pendapat dan ada alasannya. Contoh Paragraf Argumentasi : Keberhasilan domain itu memang tidak mudah diukur. Sebab, domain tersebut menyangkut hal yang sangat rumit, bahkan terkait dengan ''meta penampilan" siswa yang kadang-kadang tidak kelihatan. Membentuk karakter manusia memang membutuhkan pengorbanan, sebagaimana yang dilakukan negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Malaysia. Mereka bisa maju karena memiliki banyak orang pintar dan berkarakter.
  5. Persuasi: paragraf yang mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca agar melakukan sesuatu. Ciri- ciri : ada bujukan atau ajakan untuk berbuat sesuatu Contoh Paragraf Persuasi : Sebaiknya pemerintah melakukan penghematan. Selama ini, pemerintah boros dengan cara tiap tahun membeli ribuan mobil dinas baru serta membangun kantor-kantor baru dan guest house. Pemerintah juga selalu menambah jumlah PNS tanpa melakukan perampingan, membeli alat tulis kantor (ATK) secara berlebihan, dan sebagainya. Padahal, dana yang dimiliki tidak cukup untuk itu.

Resensi Buku Jejak-jejak Makna

Judul               : Jejak-jejak Makna
Pengarang      : Gede Prama
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2004
Halaman          : i-xvii + 292 Halaman
Oleh: Kemas Sudirman, S.Pd.I

Kehidupan manusia ibarat bentangan gurun pasir yang sangat luas yang meninggalkan jejak-jejak kaki ketika kita lewati. Jejak-jejak kaki itu akan menunjukkan kepada kita sudah sejauh mana kita mengarungi samudra gurun kehidupan. Di gurun pasir yang terhampar luas, kita dituntut mampu mengatasi suhu yang begitu panas dan melanjutkan perjalanan yang tidak berujung. Itulah kehidupan manusia. Penuh tantangan, cobaan, dan pengalaman menyedihkan. Sementara kita tidak mengetahui kapan perjalanan hidup kita berakhir.
Namun, bukan berarti hidup itu harus diratapi dan dibenci. Hidup harus terus dilalui dan dihayati. Hidup adalah anugerah Tuhan yang tiada terkira. Menolaknya merupakan kesalahan terbesar. Kendati tidak selamanya menyenangkan, hidup pasti tetap bermakna. Jejak-jejak makna tersebut hanya dapat dilihat, dibaca, dan dimaknai oleh mereka yang telah berhasil membuka jendela kepekaan.
Apabila jendela kepekaan telah terbuka, jangankan kelebihan, kekurangan dan kegagalan yang paling memalukan sekali pun dapat meninggalkan jejak-jejak makna yang berguna. Semuanya akan makin membuat kita mendatangkan kelimpahan makna yang mendalam jika direnungkan. Bahkan melalui penghayatan yang dalam, manusia makin memahami arti makna kesuksesan, menghargai pengorbanan dan perjuangan, serta membantu mengikis perasaan dan sikap sombong.

Penulis mengisahkan pengalaman kehidupan masa kecilnya yang ketika dilihat dengan penilaian objektif, bukanlah hidup yang serba berkecukupan. Penulis lahir sebagai bungsu dari tiga belas bersaudara di desa terpencil di Pulau Bali. Setelah sukses, Gede Prama menyadari bahwa jejak-jejak pengalaman masa kecilnya merupakan lautan inspirasi yang menuntunnya mencapai tangga kesuksesan. Gede Prama sukses memimpin sebuah perusahaan swasta besar dan konsultan manajemen terpopuler. Pengalaman akan keikhlasan untuk berbagi kasih dengan kedua belas saudaranya serta orang tuanya, mengilhami Gede Prama untuk menaklukkan segala bentuk egoisme. Dengan menggunakan semangat kebersamaan dalam mengelola manajemen perusahaan, Gede Prama diberi anugerah sebagai salah seorang CEO yang paling berhasil di negeri ini.

Filsafat manajemen yang altruistik membuat Gede Prama mempunyai keunikan yang istimewa. Kesuksesan hidup bukanlah sekadar sebuah kemenangan yang dihasilkan individu dari ketatnya persaingan atau sekadar menghindari kesusahan yang menyakitkan. Kesuksesan lebih berbobot ketika individu yang bersangkutan mampu menaklukkan sikap angkuh dan sombong manakala berhasil mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Kesuksesan itu juga lebih tinggi saat dimilikinya kemampuan melihat kegagalan sebagai sebuah cambuk yang menuntun orang untuk merenungkan perjalanan hidupnya. Kesuksesan yang bermakna adalah ketika keutamaannya dapat dirasakan oleh banyak orang, bukan bersifat individual.
Kesuksesan yang sejati adalah sebuah proses melatih, memahami jejak-jejak makna, sebuah jalan panjang yang tidak pernah selesai. Kesediaan berbagi dengan yang lain ketika mendapatkan kejayaan merupakan hakikat kesuksesan. Begitu pula ketika menuai kegagalan tidak menyalahkan yang lain.

Gede Prama bukanlah sekadar seorang resi manajemen yang mumpuni. Gede Prama adalah seorang bijaksanawan, penglihat, dan penutur kehidupan yang jernih. Pesan-pesan kebijaksanaannya disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan tapi berisi. Dia terkesan santun dan tidak pernah menggurui.
Akhirnya, indah sekali ketika jejak-jejak makna dalam buku ini terlihat, terbaca, dan diikuti dengan tekun. Buku ini adalah refleksi (cermin) mendalam penulisnya tentang jejak-jejak makna dalam hidupnya. Ada sejumlah pintu kehidupan yang terbuka. Salah satunya adalah pintu kebahagiaan. Gede Prama mengibaratkan seorang ibu yang lama ditinggalkan putri kesayangannya. Rumah kebahagiaan membukakan pintu, melemparkan senyuman, mengundang dekapan dan pelukan: “Ibu rindu kamu, selamat datang kembali di rumah kebahagiaan.”

Orang yang Selalu Bersyukur

Di sebuah desa yang subur hiduplah seorang petani. Pak Rejo nama petani itu. Pak Rejo memiliki beberapa petak sawah dan seekor kerbau yang membantunya membajak sawah. Suatu pagi istri Pak Rejo mengeluh, karena kerbau yang dimiliki Pak Rejo kurus.
"Pak, tukarkan kerbau ini ke pasar saja!" kata Bu Rejo.
"Memangnya kenapa, Bu?" jawab Pak Rejo.
"Kerbau ini yang membantuku membajak di sawah. Kalau kerbau ini kubawa ke pasar, aku membajak sawah dengan apa?" kata Pak Rejo kemudian.
"Tukarkan kerbau yang kurus ini dengan kerbau yang lebih sehat!" kata Bu Rejo.
Di sebuah desa yang subur hiduplah seorang petani. Pak Rejo nama petani itu. Pak Rejo memiliki beberapa petak sawah dan seekor kerbau yang membantunya membajak sawah.
Suatu pagi istri Pak Rejo mengeluh, karena kerbau yang dimiliki Pak Rejo kurus.
"Pak, tukarkan kerbau ini ke pasar saja!" kata Bu Rejo.
"Memangnya kenapa, Bu?" jawab Pak Rejo.
"Kerbau ini yang membantuku membajak di sawah. Kalau kerbau ini kubawa ke pasar, aku membajak sawah dengan apa?" kata Pak Rejo kemudian.
"Tukarkan kerbau yang kurus ini dengan kerbau yang lebih sehat!" kata Bu Rejo.
"Baiklah, aku akan membawanya ke pasar!" jawab Pak Rejo kemudian.

Pagi itu, Pak Rejo membawa kerbaunya ke pasar.
Di tengah jalan, Pak Rejo bertemu orang yang membawa kambing. Pak Rejo berniat menukar kerbau miliknya dengan kambing itu.
"Ah, aku akan menukar kerbau ini dengan kambing itu. Kambing dapat beranak lebih cepat dari kerbau dan aku tidak perlu kandang besar untuk memeliharanya," gumam Pak Rejo.
"Bagaimana kalau aku menukar kambingmu dengan kerbau ini?” kata Pak Rejo.
"Tentu saja boleh!" balas pemilik kambing.
Pak Rejo berpikir sejenak, kemudian Pak Rejo meneruskan langkahnya ke pasar. Ia kemudian bertemu orang yang membawa ayam. Pak Rejo berpikir, ayam akan menghasilkan banyak telur, sehingga ia dapat makan telur ayam setiap hari. Apabila telur-telur itu ditetaskan, pasti ia akan memiliki banyak ayam. Akhirnya Pak Rejo menukarkan kambing yang dibawanya dengan ayam. Pak Rejo sangat senang dan ia pulang ke rumah.
Sampai di rumah, ia menceritakan perjalanannya dari rumah ke pasar pada istrinya. Istrinya marah dan berkata bahwa Pak Rejo dungu.
Tetapi Pak Rejo tidak menghiraukan istrinya dan merawat ayam itu.
Suatu hari, ayam Pak Rejo bertelur. Setelah Pak Rejo pergi ke kandang untuk mengambil telur ayam, Pak Rejo heran karena telur itu adalah telur emas.
Setiap hari ayam itu terus bertelur emas. Pak Rejo menukar telur emas itu dengan perangkat rumah dan ia menjadi orang terkaya kampungnya. Pak Rejo bersyukur pada Tuhan atas kemurahan-Nya.
 Setelah mendengarkan cerita "Orang yang Selalu Bersyukur”, kalian tentu sudah mencatat beberapa hal yang kalian dengar dan kalian anggap penting.
Perhatikan pertanyaan berikut ini untuk mengingatkan kembali catatan kalian!
a) Bagaimana keadaan desa Pak Rejo?
b) Apa saja yang dimiliki Pak Rejo?
c) Mengapa Pak Rejo mengeluh?
d) Dengan apa saja Pak Rejo menukar kerbaunya?
e) Bagaimana perasaan Bu Rejo ketika mengetahui kerbau ditukar dengan ayam?
f) Mengapa Pak Rejo heran ketika membuka kandang ayam?
g) Apa yang ditukar Pak Rejo dengan telur emas?
h) Bagaimana kehidupan Pak Rejo sekarang?
i)  Mengapa Pak Rejo bersyukur?
j)  Apa nasihat yang dapat kalian ambil dari cerita tersebut?

Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau

Raja Jambi dalam cerita ini adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari negeri Keling (India). Pada suatu ketika, Negeri Jambi dikacaukan oleh Hantu Pirau. Seluruh warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah mencari nafkah. Bagaimana Raja Jambi menaklukkan Hantu Pirau itu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau berikut.

* * *

Alkisah, di Negeri Jambi, ada seorang raja yang terkenal sakti mandraguna. Ia adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari Negeri Keling. Selain sakti mandraguna, ia juga terkenal arif dan bijaksana. Ia senantiasa memikirkan nasib dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Keadaan ini membuat rakyat tenang dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mencari nafkah. Itulah sebabnya, ia sangat disegani oleh seluruh rakyatnya.

Pada suatu ketika, suasana tenang tersebut tiba-tiba terusik oleh kedatangan Hantu Pirau. Ia selalu datang menakut-nakuti anak-anak kecil yang sedang bermain dan mengganggu bayi-bayi yang sedang tidur. Jika melihat bayi ataupun anak-anak kecil, Hantu Pirau suka tertawa terkekeh-kekeh kegirangan, sehingga anak-anak menjadi ketakutan dan bayi-bayi pun menangis. Namun, jika para orangtua menjaga anak-anak mereka, hantu itu tidak berani datang mengganggu. Oleh karenanya, para orangtua setiap saat harus selalu menjaga anak-anak mereka baik ketika sedang bermain maupun tidur di buaian. Keadaan tersebut membuat warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah untuk pergi mencari nafkah.

Melihat keadaan itu, para pemimpin masyarakat dari Tujuh Koto, Sembilan Koto, dan Batin Duo Belas atau yang lazim disebut Dubalang Tujuh, Dubalang Sembilan, dan Dubalang Duo Belas, mencoba mengusir hantu tersebut dengan membacakan segala macam mantra yang mereka kuasai. Namun, semuanya sia-sia. Bahkan, kelakuan hantu itu semakin menjadi-jadi. Hampir setiap saat, baik siang maupun malam, ia selalu datang mengganggu anak-anak hingga menangis dan menjerit-jerit ketakutan.

“Segala cara sudah kita lakukan, tapi Hantu Pirau itu tetap saja tidak mau enyah dari negeri ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dubalang Tujuh bingung.

“Bagaimana kalau kejadian ini kita sampaikan kepada raja?” usul Dubalang Sembilan.

“Aku setuju. Bukankah beliau seorang raja yang sakti mandraguna?” sahut Dubalang Duo Belas.

“Baiklah kalau begitu! Ayo kita bersama-sama pergi menghadap kepada raja,” kata Dubalang Tujuh.

Setelah mendapat kata mufakat, akhirnya ketiga dubalang tersebut segera menghadap Raja Negeri Jambi. Sesampainya di istana, mereka pun segera melaporkan semua peristiwa yang sedang menimpa negeri mereka.

“Ampun, Baginda! Kami ingin melaporkan sesuatu kepada Baginda,” kata Dubalang Dua Belas.

“Katakanlah! Apakah gerangan yang terjadi di negeri ini, wahai Dubalang?” tanya Raja Jambi ingin tahu.

“Ampun Baginda! Beberapa hari ini, Hantu Pirau selalu datang mengganggu anak-anak kami. Mula-mula mereka merasa geli dan tertawa, tapi lama-kelamaan mereka menangis dan menjerit ketakutan,” jawab Dubalang Duo Belas.

“Ampun, Baginda! Kami sudah melakukan berbagai cara, namun Hantu Pirau itu selalu saja datang mengganggu mereka,” tambah Dubalang Sembilan.

“Bagaimana bentuk dan rupa Hantu Pirau itu? Apakah kalian pernah melihatnya?” tanya Raja Jambi.

“Belum Baginda! Kami hanya sering mendengar suara gelak tawanya kegirangan ketika anak-anak itu menangis dan menjerit-jerit,” jawab Dubalang Duo Belas.

Mendengar laporan para dubalang tersebut, Raja Jambi tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat dan sudah mulai memutih. Ia kemudian beranjak dari singgasananya lalu berjalan mondar-mandir.

“Baiklah kalau begitu. Pulanglah ke negeri kalian dan sampaikan kepada seluruh warga yang pandai membuat lukah[1] agar masing-masing orang membuat sebuah lukah!” titah Raja Negeri Jambi.

“Ampun, Baginda! Untuk apa lukah itu? Bukankah sekarang belum musim berkarang (mencari ikan)?” tanya Duabalang Duo Belas dengan penuh keheranan.

“Sudahlah, laksanakan saja apa yang aku perintahkan tadi! Jangan lupa, setelah lukah-lukah tersebut selesai, segeralah memasangnya di atas bukit dengan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang kuat. Setelah itu, setiap pagi dan sore kalian bergiliran ke atas bukit untuk melihat lukah-lukah tersebut!” perintah sang Raja.

Mendengar penjelasan sang Raja, ketiga dubalang itu langsung mohon diri untuk melaksanakan perintah. Tak satu pun dari mereka yang berani kembali bertanya kepada raja. Dalam perjalanan pulang, mereka terus bertanya-tanya dalam hati tentang perintah sang Raja.

Sesampainya di negeri masing-masing, ketiga dulabang itu langsung menyampaikan perintah raja kepada seluruh warganya. Para warga hanya terheran-heran ketika menerima perintah itu. Ketika bertanya kepada ketiga dubalang, mereka tidak mendapat jawaban yang pasti. Sebab ketiga dubalang itu juga tidak mengetahui maksud sang Raja. Namun karena itu adalah perintah raja, para warga pun segera membuat lukah, meskipun dalam hati mereka selalu bertanya-tanya. Lukah-lukah tersebut kemudian mereka pasang di atas bukit yang tak jauh dari permukiman penduduk. Setiap pagi dan sore ketiga dubalang itu secara bergiliran naik ke atas bukit untuk melihat dan memeriksa lukah-lukah tersebut. Pada hari pertama, kedua, ketiga hingga hari keenam, belum menunjukkan adanya tanda-tanda yang mencurigakan.

Pada hari ketujuh di pagi hari, Dubalang Duo Belas mendapat giliran naik ke atas bukit untuk memeriksa lukah-lukah tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia berada di atas bukit. Ia melihat sesuatu menggelepar-gelepar di dalam sebuah lukah. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi kecil. Makhluk itu juga dapat berbicara seperti manusia. Ketika Dubalang Duo Belas mendekat, makhluk aneh itu mengeluarkan suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

“Hei, sepertinya aku sering mendengar suara itu. Bukankah itu suara Hantu Pirau yang sering mengganggu anak-anak kecil?” tanya Dubalang Duo Belas dalam hati.

Setelah memastikan bahwa suara itu benar-benar Hantu Pirau, maka yakinlah ia bahwa makhluk yang terperangkap dalam lukah itu pastilah Hantu Pirau. Ia pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Negeri Jambi.

“Ampun, Baginda! Hamba baru saja dari bukit itu. Hamba menemukan seekor makhluk yang terperangkap ke dalam lukah. Apakah dia itu Hantu Pirau?” tanya Dubalang Duo Belas.

“Benar, dubalang! Bawalah Hantu Pirau itu kemari!” titah sang Raja.

“Baik, Baginda! Hamba laksanakan!” ucap Dubalang Duo Belas seraya berpamitan.

Sebelum menuju ke atas bukit, ia mengajak Dubalang Sembilan dan Dubalang Tujuh untuk bersama-sama mengambil lukah tersebut. Setelah membuka tali pengikat lukah dari tonggak, ketiga dubalang tersebut membawa lukah yang berisi Hantu Pirau itu ke hadapan sang Raja.

“Sudah tahukah kalian, wahai dubalang! Makhluk inilah yang bernama Hantu Pirau yang sering menganggu anak-anak kecil,” ungkap sang Raja.

“Mengerti Baginda!” jawab ketiga dubalang itu serentak.

“Pengawal! Siapkan pedang yang tajam! Aku akan memotong-motong tubuh hantu ini,” perintah sang Raja kepada seorang pengawal.

Mendengar ancaman tersebut, Hantu Pirau itu pun langsung memohon ampun kepada Raja Negeri Jambi.

“Ampun, Tuan! Janganlah bunuh hamba! Jika Tuan sudi melepaskan hamba dari lukah ini, hamba akan memenuhi segala permintaan Tuan. Bukankah Tuan adalah Raja yang arif dan bijaksana?”

“Baiklah, kalau begitu! Aku hanya ada dua permitaan. Pertama, setelah keluar dari lukah ini, tinggalkan negeri ini dan jangan pernah kembali mengganggu wargaku lagi, terutama anak-anak kecil. Kedua, serahkan cincin pinto-pinto (pinta-pinta, yakni cincin sakti, apo yang kuminta harus ado) itu kepadaku!” kata sang Raja.

Hantu Pirau pun langsung menyanggupi permintaan Raja Jambi. Setelah dikeluarkan dari lukah, ia pun segera menyerahkan cincin pinto-pinto nya kepada sang Raja, lalu pergi meninggalkan Negeri Jambi. Sejak itu, Negeri Jambi tidak pernah lagi diganggu oleh Hantu Pirau. Keadaan negeri kembali aman, damai dan tenang. Seluruh penduduk kembali melakukan pekerjaan mereka sehari-hari dengan perasaan aman dan tenang.

Beberapa tahun setelah peristiwa Hantu Pirau itu, Raja Negeri Jambi tiba-tiba berpikir ingin membuktikan kesaktian cincin pinto-pinto pemberian Hantu Pirau. Namun karena keinginannya tidak ingin diketahui oleh rakyat Negeri Jambi, maka ia pun menyampaikan kepada rakyatnya bahwa dia akan pulang ke negerinya di Keling (India) dalam waktu beberapa lama.

Sesampai di negerinya, Raja Jambi pun segera menguji kesaktian cincin pinto-pinto itu.

“Hei cincin pinto-pinto! Jadikanlah Kota Bambay ini sebagai kota yang bertahtakan mutiara, batu permata, dan intan berlian!” pinta Raja Jambi.

Dalam waktu sekejap, suasana Kota Bombay tiba-tiba berubah menjadi gemerlap. Seluruh sudut kota dipenuhi dengan mutiara, batu permata dan intan berlian. Alangkah senang hati sang Raja melihat pemandangan yang indah dan menggiurkan itu. Ia pun enggan untuk kembali ke Negeri Jambi. Namun sebagai raja yang arif dan bijaksana, beberapa tahun kemudian ia mengutus salah seorang putranya yang bernama Sultan Baring untuk menggantikannya sebagai Raja Jambi.

Mendapat perintah itu, Sultan Baring pun segera berangkat ke Negeri Jambi bersama dengan beberapa orang pengawalnya. Sesampainya di Negeri Jambi, ia pun segera menyampaikan amanah ayahnya kepada seluruh rakyat Jambi bahwa sang Ayah tidak dapat lagi memerintah Negeri Jambi karena sudah tua. Setelah itu, ia membacakan surat pengangkatannya sebagai Raja Jambi Kedua setelah ayahnya. Rakyat Jambi pun menyambutnya dengan gembira, karena ia juga seorang Raja yang arif dan bijaksana seperti ayahnya. Konon, Sultan Baring inilah yang menurunkan raja-raja, sultan-sultan maupun raden-raden berikutnya, seperti Sultan Taha Saifuddin dan Raden Ino Kartopati.

Datuk Darah Putih

Alkisah, di negeri Jambi, ada sebuah kerajaan yang memiliki seorang hulubalang bernama Datuk Darah Putih. Diberi nama demikian, karena jika terluka darah yang keluar dari tubuhnya berwarna putih. Ia seorang hulubalang yang terkenal dengan kejujuran, kepandaian, keberanian, dan kesakstiannya. Raja negeri itu sangat hormat kepadanya, berkat kepatuhan dan kemampuannya menyelesaikan segala tugas yang diembannya.

Pada suatu hari, sang Raja memerintahkan Datuk Darah Putih untuk membentuk pasukan inti kerajaan.

"Wahai, Datuk! Kumpulkan beberapa prajurit pilihan yang memiliki ketangkasan perang yang tinggi, jujur, setia pada raja, rela berkorban untuk kepentingan negeri, serta pantang menyerah dan mengeluh. Setelah itu, latihlah mereka agar menjadi prajurit yang tangguh seperti dirimu!" titah Baginda Raja.

"Daulah, Baginda!" jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.

Datuk Darah Putih pun segera melaksanakan perintah raja. Tidak sulit baginya untuk memilih prajurit yang akan dijadikan pasukan inti. Sebab, sebagai seorang hulubalang, ia sudah mengetahui semua kepribadian dan kemampuan perang semua prajuritnya. Dalam waktu singkat, Datuk Darah Putih sudah berhasil mengumpulkan puluhan prajurit pilihan, lalu melatih kemampuan perang mereka dengan penuh kesungguhan. Setelah hampir setahun berlatih secara terus-menerus, seluruh anggota pasukan inti tersebut telah menjadi prajurit yang tangguh, pemberani, dan siap mengorbankan jiwa raganya untuk negeri mereka.

Pada suatu hari, sang Raja mendengar laporan dari seorang mata-mata bahwa Belanda akan datang menyerang negeri mereka.

"Gawat, Baginda!" lapor seorang mata-mata kerajaan yang datang tergopoh-gopoh.

"Ada apa, Prajurit? Kenapa kamu panik seperti itu? Katakanlah!" desak sang Raja.

"Ampun, Baginda! Pasukan Belanda akan menyerbu negeri kita. Mereka sedang menuju kemari melalui jalur laut," lapor mata-mata itu.

Mendengar laporan itu, sang Raja terdiam, lalu beranjak dari singgasananya. Ia kemudian mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat.

"Mmm... kedatangan mereka pasti ingin mengeruk kekayaan negeri ini. Mereka adalah penjajah yang serakah dan suka mengadu domba penduduk negeri," kata sang Raja yang sudah mengerti watak penjajah Belanda.

"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya Datuk Darah Putih.

"Karena mereka melalui jalur laut, tentu hanya satu jalan yang dapat dilalui, yaitu Selat Berhala," ungkap sang Raja.

"Berarti kita harus menghadang mereka di sekitar Pulau Berhala, Tuanku," sambung Datuk Darah Putih yang sudah mengerti maksud perkataan sang Raja.

"Benar, Datuk! Besok pagi-pagi sekali, berangkatlah ke sana. Hadang dan hancurkan mereka di Selat Berhala. Siapkan seluruh pasukan inti dan beberapa prajurit lainnya!" titah sang Raja.

"Daulah, Baginda! Perintah segera hamba laksanakan," jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.

Hulubalang sakti itu pun segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyiapkan segala peralatan perang yang diperlukan seperti pedang, tombak, dan keris. Mereka juga menyiapkan bekal makanan, karena diperkirakan masih dua hari lagi kapal pasukan Belanda baru memasuki Selat Berhala. Mereka harus berangkat lebih awal untuk mempersiapkan benteng pertahanan di Pulau Berhala.

Setelah semua peralatan dan bekal disiapkan, pasukan kerajaan yang akan berangkat berperang diperintahkan beristirahat lebih dulu untuk memulihkan tenaga setelah seharian melakukan persiapan. Sementara prajurit lainnya tetap berjaga-jaga di lingkungan istana dari berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Di kediamannya, Datuk Darah Putih tampak sedang bercengkerama bersama istrinya yang sedang hamil tua.

"Dinda! Bagaimana keadaan anak kita?" tanya Datuk Darah Putih sambil mengelus-elus perut istrinya yang buncit.

"Baik, Kanda! Semoga kelak anak kita lahir dengan selamat," jawab sang Istri.

"Dinda! Besok Kanda bersama pasukan kerajaan akan berangkat ke medan perang untuk bertempur melawan penjajah Belanda. Tolong jaga baik-baik anak kita yang ada di dalam rahimmu ini!" pinta Datuk Darah Putih kepada istrinya.

"Tentu, Kanda! Dinda akan selalu merawatnya dengan baik. Jika anak kita laki-laki, Dinda berharap semoga kelak ia menjadi seorang panglima yang sakti dan pemberani seperti Kanda," ucap sang Istri dengan penuh harapan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Datuk Darah Putih bersama pasukannya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Berhala dengan menggunakan tiga buah jongkong (perahu atau tongkang) besar. Para keluarga istana, termasuk istri Datuk Darah Putih, ikut mengantar pasukan kerajaan tersebut sampai ke pelabuhan. Tidak tampak adanya rasa sedih sedikit pun pada wajah sang Istri. Sebelum meninggalkan pelabuhan, hulubalang sakti itu berpamitan kepada istrinya yang sedang berdiri di samping sang Raja.

"Hati-hati, Kanda! Doa Dinda senantiasa menyertai Kanda. Jika sudah berhasil menumpas para penjajah itu, cepatlah kembali!" pesan sang Istri.

"Baik, Dinda! Kanda akan kembali membawa kemenangan untuk negeri ini," jawab Datuk Darah Putih sambil mencium kening dan perut istrinya, lalu bergegas naik ke atas jongkong.

Beberapa saat kemudian, ketiga jongkong tersebut berlayar menuju ke Pulau Berhala. Tampak dari kejauhan para pasukan kerajaan melambaikan tangan di atas jongkong. Para pengantar pun membalasnya dengan lambaian tangan pula. Setelah ketiga jongkong tersebut hilang dari pandangan, barulah para pengantar meninggalkan pelabuhan.

Setelah Datuk Darah Putih dengan pasukannya sampai di Pulau Berhala, mereka langsung mengatur strategi, membuat benteng-benteng pertahanan, dan tempat pengintaian. Jongkong-jongkong mereka tambatkan di balik batu karang besar yang ada di sekitar Pulau Berhala agar tidak terlihat oleh pasukan Belanda. Sambil menunggu kedatangan musuh, Datuk Darah Putih kembali menggembleng mental pasukannya.

Keesokan harinya, tampak dari kejauhan iring-iringan kapal pasukan Belanda akan memasuki Selat Berhala.

"Datuk, musuh kita telah datang. Mereka sedang menuju kemari," lapor seorang prajurit pengintai.

Mendengar laporan itu, Datuk Darah Putih segera menyiapkan seluruh pasukannya.

"Pasukan! Ambil posisi masing-masing! Sekaranglah saatnya kita membaktikan diri kepada Baginda Raja dan negeri tercinta ini!" seru Datuk Darah Putih memberi semangat kepada pasukannya.

Mendengar seruan itu, pasukan kerajaan segera menaiki ketiga jongkong mereka dan menempati posisi masing-masing. Ketika iring-iringan kapal Belanda memasuki Selat Berhala, ketiga jongkong pasukan kerajaan langsung meluncur ke arah kapal-kapal Belanda. Saat jongkong-jongkong tersebut merapat, Datuk Darah Putih beserta pasukannya segera berlompatan masuk ke dalam kapal-kapal Belanda sambil menebaskan pedang dan menusukkan keris ke arah musuh. Pasukan Belanda yang mendapat serangan mendadak itu menjadi panik. Mereka tidak sempat lagi menggunakan bedil mereka. Untuk mengimbangi serangan dari pasukan kerajaan, mereka menggunakan pedang panjang. Namun karena dalam keadaan tidak siaga, mereka pun terdesak dan tidak berdaya. Tidak seorang pun dari pasukan Belanda yang selamat. Semuanya tewas terkena sabetan pedang dan tusukan keris.

Sementara dari pihak pasukan Datuk Darah Putih hanya ada beberapa prajurit yang terluka. Sebelum kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala, mereka mengambil senjata dan semua perbekalan yang ada, lalu membakar semua kapal Belanda tersebut.

Sesampainya di Pulau Berhala, pasukan Datuk Darah Putih segera merayakan kemenangan itu dengan gembira.

"Datuk! Kita harus segera kembali ke istana untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Baginda Raja," ujar seorang prajurit.

Datuk Darah Putih hanya tersenyum mendengar laporan itu.

"Ketahuilah, Prajurit! Perjuangan kita belum selesai," jawab Datuk Darah Putih.

"Apa maksud, Datuk? Bukankah semua pasukan Belanda telah tewas?" tanya prajurit itu tidak mengerti.

"Benar katamu, Prajurit! Tapi, itu hanya sebagian kecil. Jika Belanda tidak mendengar berita dari pasukannya yang dikirim dan kita kalahkan itu, tentu mereka akan mengirim pasukan yang lebih besar lagi," jelas Datuk Darah Putih.

Mendengar penjelasan itu, sang Prajurit hanya bisa manggut-manggut. Dalam hatinya berkata bahwa Datuk Darah Putih memang seorang hulubalang yang cerdik dan pandai.

"Lalu apa tindakan kita selanjutnya, Datuk?" tanya prajurit itu.

"Iya, Datuk! Apakah kita harus tetap di sini menunggu kedatangan pasukan Belanda selanjutnya?" sambung seorang prajurit yang lain.

"Benar, Prajurit! Menurut perkiraanku, pasukan Belanda akan tiba di tempat ini tiga hari lagi. Oleh karenanya, kita harus lebih siap, karena kita akan menghadapi pasukan Belanda yang jumlahnya lebih besar," ujar Datuk Darah Putih.

Ternyata benar perkiraan Datuk Darah Putih. Tiga hari kemudian, tampak iring-iringan tiga kapal besar dengan jumlah serdadu yang lebih banyak sedang memasuki Selat Berhala. Namun, hal itu tidak membuat Datuk Darah Putih gentar. Ia pun segera menyiapkan pasukannya untuk menghadang mereka.

"Pasukan! Demi negeri ini..., demi masa depan anak cucu kita..., berperanglah sampai titik darah penghabisan!" seru Datuk Darah Putih menyemangati pasukannya.

"Hidup Datuk! Hidup Datuk Darah Putih!" terdengar teriakan para prajurit dengan penuh semangat.

Setelah itu, pasukan Datuk Darah Putih segera menaiki jongkong-jongkong lalu meluncur dan merapat ke kapal-kapal Belanda. Kali ini, mereka menghadapi musuh yang lebih berat. Jumlah pasukan Belanda lebih banyak dibanding pasukan kerajaan, sehingga pertempuran itu tampak tidak seimbang. Seorang prajurit kerajaan terkadang harus menghadapi dua sampai tiga orang serdadu Belanda.

Di haluan kapal, tampak Datuk Darah Putih dikeroyok oleh tiga orang serdadu Belanda. Tidak lama, ia pun mulai terdesak dan tiba-tiba batang lehernya tersabet pedang seorang serdadu Belanda. Maka keluarlah darah putih dari lehernya itu. Namun, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia tetap melakukan perlawanan.

"Prajurit! Aku terkena pedang. Bawa aku mundur dan yang lain tetaplah bertempur sampai titik darah penghabisan!" teriak Datuk Darah Putih sambil menghindari serangan serdadu Belanda.

Mendengar teriakan itu, beberapa orang prajurit pilihan pun datang membantunya. Dalam waktu singkat, ketiga serdadu Belanda tersebut tewas. Datuk Darah Putih segera dibawa ke Pulau Berhala untuk mendapatkan perawatan. Sesampainya di sana, ia didudukkan di tempat yang aman dan tersembunyi. Para prajurit telah berusaha menutup luka pimpinannya, namun darah putih tetap saja keluar.

"Tolong carikan aku anak batu sengkalan untuk menutupi luka di leherku ini!" perintah Datuk Darah Putih.

Dengan sigapnya, salah seorang prajurit segera mencari batu seperti yang dimaksud pimpinannya itu. Tidak berapa lama, prajurit itu pun kembali membawa sebuah anak batu sengkalan yang tipis, lalu menempelkannya pada luka di leher Datuk Darah Putih. Darah putih itu pun berhenti dan tidak keluar lagi.

Begitu lukanya tertutup batu sengkalan, Datuk Darah Putih tiba-tiba bangkit dari duduknya, lalu melompat ke atas jongkong.

"Terima kasih, Prajurit! Ayo kita kembali berperang melawan penjajah!" seru Datuk Darah Putih dengan penuh semangat.

Prajurit yang menolongnya itu pun segera mengikutinya naik ke atas jongkong. Meskipun masih terluka, Datuk Darah Putih mampu melakukan perlawanan. Bahkan, ia semakin lincah dan gesit memainkan pedangnya, sehingga banyak serdadu Belanda yang terkena sabetan pedangnya. Tidak berapa lama, akhirnya seluruh serdadu Belanda tewas.

"Horeee..., horeee... Kita menang!" terdengar suara gegap gempita pasukan kerajaan menyambut kemenangan itu.

Namun, di balik kegembiraan itu tersimpan rasa duka yang mendalam melihat keadaan Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mereka pun kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala sambil memapah Datuk Darah Putih. Berhubung hari sudah sore, mereka pun memutuskan untuk beristirahat semalam di Pulau Berhala.

Keesokan harinya, Datuk Darah Putih bersama pasukannya kembali ke istana kerajaan. Sesampainya di istana, mereka disambut oleh keluarga istana dan rakyat negeri dengan perasaan duka cita. Banyak orang yang iba melihat kondisi Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mengetahui suaminya datang, dengan perasaan tenang dan tabah, istri Datuk Darah Putih menaruh bayinya di atas tempat tidur, lalu segera menyongsong ikut memapah suaminya dan mendekatkannya pada bayi mereka yang lahir dua hari sebelumnya.

"Kanda, Anak kita laki-laki. Lihatlah! Dia tampan seperti Kanda," ujar sang Istri menghibur suaminya.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki dan dengan dibantu istrinya, Datuk Darah Putih mengangkat bayinya, kemudian mendekap dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, ia meletakkan bayi itu di pangkuan istrinya.

"Maafkan Kanda, Dinda! Tolong rawatlah anak kita baik-baik!" pinta Datuk Darah Putih dengan suara pelan.

Setelah itu, Datuk Darah Putih duduk di lantai rumahnya, lalu membaringkan tubuhnya dengan pelan. Pada saat tubuhnya terbaring itulah Datuk Darah Putih menghembuskan napasnya yang terakhir. Sang Istri hanya bisa pasrah, karena ia sadar semua itu merupakan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.
 

SES Cinema

SES Cinema
Seventy Elementary School Cinema

INFO BARU:

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Berbagi Tak Akan Rugi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger